Mandatory Sustainability-linked Tax Disclosure

PVK – Gue yakin lo udah sering denger jargon ESG kan? Environmental, Social, Governance. Itu tuh yang jadi mantra korporasi global beberapa tahun terakhir. Dari laporan keberlanjutan, green financing, sampe net zero pledge. Semua orang ngomongin sustainability.

Nah, plot twist terbaru di dunia pajak adalah wacana mandatory sustainability-linked tax disclosure. Sounds fancy, tapi artinya sederhana: mulai 2026, perusahaan—terutama yang gede—bakal diwajibin buka data soal hubungan aktivitas bisnis mereka dengan sustainability, dan gimana itu nyambung sama pajak yang mereka bayar.

Kalau lo pikir ini cuma PR tambahan buat tim keuangan, lo salah gede. Ini bukan sekadar compliance iseng. Ini bakal jadi game-changer.

Bayangin gini: selama ini perusahaan cuma wajib lapor soal penghasilan, biaya, aset, sama liabilitas. Pajak ya hitung-hitungan finansial doang. Tapi nanti, disclosure-nya harus connect sama sustainability metrics.

Misalnya:

  • Berapa persen biaya R&D lo dialokasikan buat teknologi ramah lingkungan?
  • Berapa pajak yang lo bayar dan kontribusinya buat pendanaan green transition di negara tempat lo beroperasi?
  • Apakah insentif pajak yang lo nikmati beneran dipake buat investasi hijau atau cuma buat boosting margin?

Di Eropa, ini udah mulai jalan. Tahun 2024, EU Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) mewajibkan ribuan perusahaan nyediain laporan sustainability dengan standar ketat. Mulai 2026, disclosure pajak juga bakal align sama itu. OECD dan GRI (Global Reporting Initiative) lagi nyiapin framework biar laporan pajak gak cuma angka kering, tapi nyambung sama ESG target.

Indonesia? Belum wajib, tapi udah ada sinyal kuat ke arah situ. OJK misalnya, udah bikin regulasi soal laporan keberlanjutan untuk emiten. Bank Indonesia juga dorong green taxonomy buat sektor keuangan. Next step yang keliatan banget: mandatory tax disclosure yang link ke sustainability.


Gue pernah ngobrol sama partner di salah satu Big Four. Dia cerita:

“Klien-klien multinational udah mulai panik. Mereka bukan cuma harus siapin laporan pajak biasa, tapi juga harus bisa jelasin ke publik gimana strategi pajak mereka mendukung sustainability. Kalau lo masih main transfer pricing abu-abu, atau ngandelin insentif yang gak jelas impact-nya ke green economy, siap-siap kena blowback.”


Nah, ini bikin tantangan baru buat perusahaan di Indo. Karena jujur aja, banyak bisnis di sini masih nganggep pajak itu cost, bukan bagian dari strategi sustainability.

Contoh konkret:
Lo dapet tax holiday buat bangun pabrik. Pertanyaan baru nanti: apakah pabrik itu efisien energi? Apakah bener-bener bikin supply chain lebih hijau? Kalau enggak, bisa jadi disclosure lo dianggap greenwashing.


Tapi, gak semuanya beban. Ada upside yang bisa jadi peluang:

  1. Reputasi & trust
    Investor global makin peduli sama ESG. Kalau perusahaan bisa transparan soal pajak dan sustainability, trust level naik. Itu bisa jadi magnet buat funding, khususnya green bonds atau ESG funds.
  2. Efisiensi internal
    Bikin disclosure sustainability-linked tax memaksa perusahaan audit ulang strategi pajak. Lo bisa nemuin inefficiency atau loophole yang justru bikin risiko. Sekaligus lo bisa align sama tujuan jangka panjang.
  3. Bargaining power ke regulator
    Kalau perusahaan bisa buktiin kontribusinya jelas ke green economy, ada chance buat dapet insentif pajak baru yang lebih relevan.

Dari sisi pemerintah Indo, ini juga tricky. Kalau kita kebanyakan kasih insentif ke sektor yang gak sustainable (contoh: batubara), disclosure kayak gini bakal bikin image Indo jelek di mata global. Investor ESG bisa kabur.

Di sisi lain, Indo juga harus siapin sistem buat ngevaluasi dan ngeverifikasi laporan sustainability-tax ini. Gak bisa cuma andelin self-reporting. Butuh digital platform, standardisasi data, sampai audit independen.

baca juga


Di level global, diskusi udah panas banget. Ada dua kubu:

  • Kubu pro disclosure bilang ini bikin sistem pajak lebih fair dan bikin perusahaan accountable. Apalagi selama ini publik sering curiga, perusahaan multinasional bayar pajak minim padahal profit segunung. Dengan disclosure, masyarakat bisa liat apakah pajak itu balik ke hal-hal yang sustainable.
  • Kubu kontra bilang ini bikin compliance cost gila-gilaan. Perusahaan harus hire konsultan sustainability, auditor tambahan, dan tim legal buat ngatur disclosure. Buat perusahaan di emerging market kayak Indo, itu bisa jadi beban gede.

Kasus nyata: Shell dan BP di Eropa udah mulai disorot publik. Bukan cuma soal emisi mereka, tapi juga apakah strategi pajak mereka align sama net zero pledge. Kalau mereka tetep pake struktur pajak agresif di tax haven, trust investor ESG bisa runtuh.

Gue bisa bayangin skenario sama bakal kejadian di Indo. Misalnya perusahaan tambang gede yang dapet tax allowance. Publik bakal nanya: “Lo dapet insentif, tapi apakah itu dipake buat transisi energi atau cuma buat nyedot profit?”


So, 2026 ke depan bakal jadi era baru: pajak bukan cuma soal angka, tapi juga narasi sustainability.

Buat CFO, ini bukan lagi sekadar hitung laba rugi. Lo harus bisa storytelling: gimana pajak perusahaan lo jadi bagian dari solusi global climate crisis.

Dan buat pemerintah Indo, PR-nya gede banget. Kita harus bisa bikin guideline jelas, ngasih insentif yang bener-bener nyambung sama sustainability, plus nyiapin SDM pajak yang ngerti ESG.


Gue pribadi ngeliat ini sebagai momentum buat Indo naik kelas.

Kalau kita bisa embrace mandatory sustainability-linked tax disclosure dengan serius, Indo bisa nunjukin diri sebagai emerging market yang accountable dan visioner. Itu bisa ningkatin rating kredit, narik investor ESG, dan ningkatin posisi Indo di supply chain global.

Kalau enggak? Ya siap-siap dicap greenwashing paradise.


Jadi kesimpulannya: mandatory sustainability-linked tax disclosure (2026 forward) itu bukan cuma compliance tambahan, tapi revolusi mindset pajak.

Buat perusahaan Indo, waktunya sekarang buat mulai adaptasi. Karena once aturan ini jalan, gak ada lagi ruang buat fake transparency.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top