Pajak Penghasilan

Pro VisionerGaji Udah Masuk, Tapi Kok Ada Potongan Pajak? Nih Gue Jelasin Pajak Penghasilan ! Hari Jumat sore, Saka baru aja nerima gaji pertamanya setelah magang full-time 3 bulan. Di layar HP-nya, notifikasi dari payroll masuk: “Transfer Gaji – Rp5.200.000”.

Senyum lebar langsung nyebar di mukanya.

“Yeees! Uang gaji pertamaku! Tapi…” dia berhenti sejenak. “Loh, bukannya kontraknya bilang Rp5,500,000? Kok kepotong?”

Besoknya, di coffee shop kampus, Saka langsung curhat ke temennya, Della—anak akuntansi yang udah kerja sambilan di kantor konsultan pajak.

“Del, gaji gue kok kepotong ya? Gue pikir dapet full, ternyata ada potongan. Ini gara-gara pajak, ya?”

Della ketawa kecil. “Welcome to the adult world, Sak! Iya, itu namanya Pajak Penghasilan. Biasa disebut PPh.”

Saka mengerutkan dahi. “Tapi kenapa harus dipotong dari gaji gue? Gue kan kerja keras juga.”

Apa Itu Pajak Penghasilan?

Della buka laptopnya dan nunjukin catatan kuliahnya. “Jadi gini Sak, Pajak Penghasilan itu pajak yang dikenakan ke orang pribadi atau badan atas penghasilan yang mereka dapetin dalam satu tahun pajak. Penghasilan tuh gak cuma gaji doang, bisa juga dari bisnis, honor, hadiah, royalti, sewa properti, bahkan hadiah lomba.”

Saka ngangguk-ngangguk. “Oke, jadi pajak ini kayak… biaya negara karena kita dapet duit?”

“Exactly. Uangnya nanti dipake buat jalan tol, sekolah, rumah sakit, dan segala layanan publik lainnya. Intinya, makin banyak lo dapet penghasilan, makin besar kontribusi lo ke negara.”

Ciri-ciri Pajak Penghasilan

“Terus, semua orang kena pajak ini?” tanya Saka.

“Enggak semua, tapi banyak yang kena. Nih ya, ciri-ciri pajak penghasilan tuh gini,” Della mulai ngitung pakai jarinya:

  1. Dikenakan ke individu dan badan usaha: Jadi gak cuma karyawan, tapi juga pengusaha, freelancer, atau bahkan content creator.
  2. WNA juga kena kalau kerja di Indonesia: Jadi bule-bule yang kerja di startup lokal juga kena PPh.
  3. Berlaku buat pegawai tetap dan gak tetap: Pegawai bulanan, freelance, bahkan penerima pensiun.
  4. Harus punya NPWP: Wajib pajak pribadi atau badan perlu punya Nomor Pokok Wajib Pajak biar bisa bayar dan lapor pajak.
  5. Dibayar tahunan, tapi dipotong per bulan: Biasanya udah langsung dipotong sama kantor, tapi setahun sekali kita tetep harus lapor totalnya.
  6. Semakin besar penghasilan, semakin besar pajaknya: Ini yang disebut sistem progresif.

Saka nyimak sambil sesekali nyeruput kopi. “Jadi, potongan gaji gue kemarin itu PPh ya?”

“Iya. Kantor lo udah jadi pemotong pajak, jadi mereka yang urus, lo tinggal lapor aja nanti pas Maret.”

baca juga

Berapa Besar Pajak Penghasilan di Indonesia?

“By the way, lo tau gak besaran tarif pajaknya?” tanya Della lagi.

Saka geleng.

“Gini nih,” kata Della sambil nunjukin tabel di layar:

  • Penghasilan sampai Rp60 juta/tahun: tarif 5%
  • Rp60 juta – Rp250 juta: tarif 15%
  • Rp250 juta – Rp500 juta: tarif 25%
  • Rp500 juta – Rp5 Miliar: tarif 30%
  • Di atas Rp5 Miliar: tarif 35%

“Tarifnya progresif. Jadi kalau lo dapet Rp100 juta setahun, gak langsung kena 15% semua. Tapi 60 juta pertama kena 5%, sisanya baru 15%.”

Saka mulai ngerti. “Oke, kayak tangga ya. Makin naik penghasilan, makin naik pajaknya.”

“Exactly! Tapi jangan khawatir, lo juga dapet pengurangan—kayak PTKP.”

“PTKP? Itu apaan?”

Mengenal PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak)

“PTKP itu batas penghasilan yang gak dikenain pajak. Buat orang pribadi belum nikah, batasnya Rp54 juta per tahun. Jadi kalo lo gaji Rp5,5 juta per bulan, berarti Rp66 juta setahun. Dikurangin PTKP, sisa Rp12 juta yang kena pajak. Itu pun cuma 5%.”

Saka melongo. “Wah, kecil juga ya ternyata. Jadi selama penghasilan di bawah PTKP, aman dong?”

“Iya, aman dari pajak. Tapi tetep kudu lapor SPT tiap tahun. Itu penting buat rekam jejak lo.”

Kapan Harus Lapor Pajak?

Saka buru-buru buka notes di HP. “Catet ya…”

“Deadline buat lapor SPT Tahunan itu 31 Maret tiap tahun buat orang pribadi. Kalo lo telat, kena denda Rp100.000.”

“Waduh. Bisa online gak sih?”

“Bisa banget. Di djponline.pajak.go.id. Lo tinggal login pakai NPWP dan EFIN, isi datanya, submit, dan simpan bukti lapornya.”

Apa Dampak Kalau Gak Bayar Pajak?

Saka penasaran. “Kalau gak bayar pajak, kenapa sih? Emang sepenting itu?”

“Wah, penting banget. Selain bisa kena denda dan bunga, gak bayar pajak bisa bikin lo susah urus KPR, visa, atau ikut proyek. Bahkan, banyak perusahaan sekarang nanyain SPT pas rekrut orang.”

Saka menghela napas. “Gue kira cuma formalitas. Ternyata penting buat masa depan juga.”

Tips Anti Bingung Urus PPh

Della ngasih tips terakhir:

  1. Daftar NPWP dari awal kerja: Bisa online lewat website pajak.
  2. Minta bukti potong pajak ke kantor tiap akhir tahun: Biasanya bentuknya 1721 A1.
  3. Gunakan e-Filing DJP: Anti ribet dan bisa dari mana aja.
  4. Kalau bingung, konsultasi aja ke konsultan pajak: Apalagi kalo udah punya usaha sampingan.

Penutup: Pajak Itu Tanggung Jawab, Bukan Beban

Saka senyum lebar. “Thanks Del! Sekarang gue ngerti banget soal pajak penghasilan. Ternyata gak semenakutkan itu ya.”

“Yap! Pajak itu bukan beban, tapi bentuk tanggung jawab kita sebagai warga negara. Lo dapet gaji, lo lapor dan bayar pajaknya. Beres.”

“Dan ternyata pajaknya gak nyakitin juga. Malah bantuin negara.”

“Betul. Gaji kita mungkin kepotong sedikit, tapi kalo dikumpulin bareng-bareng, bisa bikin jembatan, sekolah, dan rumah sakit.”

Saka ngacungin gelas kopinya. “Oke. Pajak, I respect you now.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top