Konsultan Pajak Jakarta – Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) “Eh, gaji gue di bawah 5 juta sebulan. Jadi gue gak usah bayar pajak kan?” tanya Vira ke Deni, temennya yang lagi duduk ngopi santai di coworking space.
Deni ngangkat alis. “Loh, itu sih harus dicek dulu. Lo udah tahu soal PTKP belum?”
“PTKP? Kayak nama grup boyband Korea ya,” celetuk Vira sambil ngunyah roti bakar. Deni ketawa. “Bukan, woy. PTKP itu singkatan dari Penghasilan Tidak Kena Pajak. Itu tuh dasar hitungan apakah penghasilan lo kena pajak atau enggak.”
“Ooo… Jadi maksudnya kalau gaji gue masih di bawah batas itu, gue aman?” tanya Vira sambil buka kalkulator di HP-nya. “Berapa sih batasnya?”
“Kalau ngikutin aturan terakhir dari Kemenkeu dan Ditjen Pajak, batas PTKP itu Rp54 juta per tahun. Artinya, Rp4,5 juta per bulan,” jelas Deni. “Kalau gaji lo pas-pasan segitu atau malah di bawahnya, ya lo gak kena PPh 21.”
Vira langsung ngangguk-ngangguk. “Oh jadi itu alasannya kantor gue gak potong pajak dari gaji. Tapi kalo penghasilan gue naik, misalnya jadi lima setengah juta sebulan, itu udah kena ya?”
“Yup. Tapi yang dikenain pajak cuma selisihnya, alias penghasilan kena pajaknya aja,” Deni nyeruput kopi. “Kan hitungan pajak itu dimulai dari penghasilan bruto, dikurangin biaya-biaya dan potongan, baru masuk ke penghasilan neto. Nah dari neto itu dikurangin PTKP, baru deh sisanya jadi dasar hitungan pajak.”
Vira nyatet di HP-nya, “Bruto – biaya = neto. Neto – PTKP = PKP. PKP x tarif = pajak. Got it.”
Deni kasih jempol. “Lo paham. Banyak orang tuh suka bingung pas lapor SPT, karena mereka kira semua penghasilan kena pajak. Padahal enggak juga. Ada bagian yang dibebaskan, yaitu PTKP ini.”
Vira manggut-manggut, “Tapi Deni, ini PTKP cuma buat orang pribadi kan? Bukan buat usaha?”
“Iya, ini buat Wajib Pajak Orang Pribadi,” jawab Deni. “Biasanya dipakai buat ngitung PPh 21, terutama kalau lo karyawan. Kalau lo pengusaha atau freelancer, ya tetap bisa pakai PTKP juga buat ngurangin penghasilan kena pajak lo. Tapi tentu penghitungan PPh-nya beda jalur.”
Vira mikir sejenak. “Kalo gue punya tanggungan, misalnya gue udah nikah atau punya anak, PTKP-nya naik gak?”
“Naik dong. PTKP itu bisa nambah tergantung status lo,” jawab Deni sambil buka catatan. “Misalnya gini:
- Buat WP orang pribadi: Rp54 juta
- Tambahan untuk WP yang kawin: Rp4,5 juta
- Tambahan untuk setiap tanggungan maksimal 3 orang (anak atau keluarga sedarah): Rp4,5 juta per orang
Jadi kalau lo nikah dan punya dua anak, PTKP lo bisa sampai Rp67,5 juta per tahun.”
Vira langsung buka kalkulator. “Berarti kalau penghasilan gue 70 juta setahun, yang dikenain pajak cuma 2,5 juta?”
“Exactly. Dan 2,5 juta itu bakal dikenain tarif progresif PPh sesuai lapisan tarifnya,” jelas Deni. “Yang 0–60 juta kena 5%, yang 60–250 juta kena 15%, dan seterusnya.”
“Gila. Ternyata detail juga ya. Gue kira pajak itu tinggal setor doang,” Vira ngakak. “Berarti walaupun penghasilan gue belum kena pajak, gue tetap harus lapor SPT ya?”
“Yess. Semua wajib pajak harus lapor, kecuali udah dapet status Non-Efektif dari DJP. Jadi walaupun lo gak bayar pajak, tetap wajib lapor. Ini bentuk tanggung jawab sebagai warga negara.”
Vira tiba-tiba diem, lalu buka browser. “Eh, terus gue lapor SPT-nya dari mana?”
baca juga
- Kenapa Perusahaan di Jakarta Semakin Membutuhkan Konsultan Pajak di Era Regulasi Ketat
- Pajak Properti di Jakarta 2026
- Optimalisasi Pajak untuk Bisnis di Jakarta Pasca Pelaporan SPT
- Sengketa Pajak: Kapan Harus Menggunakan Konsultan Pajak?
- Restitusi Pajak: Proses, Syarat, dan Risiko
“Pake DJP Online aja. Lo tinggal login, isi formulir SPT 1770 SS kalau penghasilan cuma dari satu pemberi kerja. Tinggal input penghasilan, potongan, dan jumlah pajak terutang. Kalau gak ada pajak, ya tinggal klik lapor, selesai,” jawab Deni santai.
Vira lega. “Berarti kalau gaji gue di bawah 4,5 juta per bulan, gue bener-bener gak ada pajaknya sama sekali?”
“Yup, lo gak kena PPh 21. Tapi inget, kalau tahun depan gaji lo naik atau lo dapet penghasilan tambahan, kayak freelance atau jualan online, itu bisa nambah PKP lo,” Deni mengingatkan. “Dan lo harus laporin semua sumber penghasilan.”
“Oke noted! Jadi intinya PTKP itu kayak batas aman ya. Kalau di bawah batas itu, aman dari pajak. Tapi tetep wajib lapor SPT biar gak dikejar-kejar DJP.”
“Exactly,” kata Deni sambil angkat gelas kopi. “Welcome to adulthood, Vir. Pajak itu gak serumit yang lo kira, asal lo ngerti konsep dasarnya. Dan PTKP ini salah satu kuncinya.”
Vira senyum lebar. “Thanks banget Den, sekarang gue jadi lebih melek pajak. Gak asal ikut-ikutan.”
Kalau kamu juga kayak Vira yang sempat bingung soal PTKP, sekarang udah gak perlu khawatir. Pahami hak dan kewajiban pajak kamu, dan jangan lupa lapor SPT Tahunan sebelum deadline. Karena ngerti pajak, tandanya kamu udah upgrade jadi warga negara yang lebih melek finansial!