{"id":939,"date":"2025-08-28T14:31:39","date_gmt":"2025-08-28T07:31:39","guid":{"rendered":"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/?p=939"},"modified":"2025-08-28T14:31:42","modified_gmt":"2025-08-28T07:31:42","slug":"memahami-dpp-untuk-pph-dan-ppn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/memahami-dpp-untuk-pph-dan-ppn\/","title":{"rendered":"Memahami DPP untuk PPh dan PPN"},"content":{"rendered":"\n<p><a href=\"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/\">pro-visioner.com\/pvk  <\/a>Memahami DPP untuk PPh dan PPN , Bro, kalau ngomongin pajak, pasti yang paling bikin kepala muter itu <strong>DPP<\/strong>, alias <strong>Dasar Pengenaan Pajak<\/strong>. Ini semacam fondasi dari semua perhitungan pajak, baik buat PPh maupun PPN. Salah ngitung DPP, bisa-bisa denda langsung nempel, atau audit DJP datang mendadak. Nah, di artikel ini gue bakal kupas tuntas semua hal tentang DPP, dari jenis, cara hitung, sampai tips biar nggak kena jebakan pajak.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau lo masih bingung, jangan panik, karena <strong>Konsultan Pajak Jakarta<\/strong> siap bantu. Tapi baca ini dulu biar ngerti konteksnya, jadi pas konsultasi lo nggak melayang sendiri.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Itu DPP dan Kenapa Penting?<\/h2>\n\n\n\n<p>Gini bro, DPP itu inti dari semua penghitungan pajak. Bayangin lo mau bikin cake, DPP itu tepungnya. Tanpa tepung yang tepat, cake lo bakal gagal total. Sama halnya dengan pajak, DPP adalah dasar untuk:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Nentuin <strong>jumlah pajak yang harus dibayar<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li>Nentuin <strong>PPh final atau non-final<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li>Menghindari <strong>denda dan sanksi DJP<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Kalau DPP salah, efek domino langsung terasa. Misal, lo salah menghitung DPP PPN, bisa kena denda 2%, bahkan lebih kalau DJP audit. Jadi jangan dianggap remeh.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Jenis-Jenis DPP untuk PPh<\/h2>\n\n\n\n<p>Oke bro, sekarang masuk bagian yang sering bikin pusing orang awam. PPh punya banyak pasal dan masing-masing punya DPP yang berbeda. Simak nih:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Pasal 4 Ayat 2 PPh<\/h3>\n\n\n\n<p>Ini biasanya buat penghasilan tertentu yang kena pajak <strong>final<\/strong>, kayak:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Sewa tanah atau bangunan<\/li>\n\n\n\n<li>Sewa kamar hotel<\/li>\n\n\n\n<li>Kemenangan lotere<\/li>\n\n\n\n<li>Jasa konstruksi<\/li>\n\n\n\n<li>Pengalihan hak atas tanah\/bangunan<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Nah, dasar pengenaan pajak ini dihitung <strong>dari jumlah bruto<\/strong>, jadi semua biaya yang dibayar atau seharusnya dibayar masuk hitungan, termasuk biaya pemeliharaan, keamanan, atau fasilitas tambahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh: Lo nyewa gedung IDR 100 juta + biaya service 10 juta, maka DPP PPh 4(2) = 110 juta. Pajaknya <strong>10% final<\/strong>, langsung setor ke kas negara, selesai.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Pasal 15 PPh<\/h3>\n\n\n\n<p>Ini unik bro, biasanya buat perusahaan pelayaran. DPP dihitung <strong>4% dari omzet bruto<\/strong>, dan PPh yang terutang final 1,2% dari omzet. Omzet bruto di sini termasuk total kompensasi dari pengangkutan orang\/barang dari pelabuhan Indonesia ke pelabuhan lain, atau ekspor-impor.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi kalau perusahaan pelayaran punya omzet IDR 500 juta, DPP = 4% \u00d7 500 juta = 20 juta, PPh final = 1,2% \u00d7 500 juta = 6 juta.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. PPh Pasal 22<\/h3>\n\n\n\n<p>Ini biasanya buat impor barang atau penghasilan kena <a href=\"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/biaya-layanan-vs-pajak-penghasilan\/\">pajak dari transaksi <\/a>tertentu. DPP dihitung dari <strong>nilai impor + pajak impor + bea lainnya<\/strong>, tapi <strong>tidak termasuk PPN<\/strong>. Jadi kalau lo impor barang senilai IDR 1 miliar, DPP-nya dihitung dari total biaya termasuk bea masuk, dan PPh Pasal 22 bisa dipotong sesuai tarif.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>baca juga<\/p>\n\n\n<ul class=\"wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts\"><li><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/kenapa-perusahaan-di-jakarta-semakin-membutuhkan-konsultan-pajak-di-era-regulasi-ketat\/\">Kenapa Perusahaan di Jakarta Semakin Membutuhkan Konsultan Pajak di Era Regulasi Ketat<\/a><\/li>\n<li><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/pajak-properti-di-jakarta-2026\/\">Pajak Properti di Jakarta 2026<\/a><\/li>\n<li><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/optimalisasi-pajak-untuk-bisnis-di-jakarta-pasca-pelaporan-spt\/\">Optimalisasi Pajak untuk Bisnis di Jakarta Pasca Pelaporan SPT<\/a><\/li>\n<li><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/sengketa-pajak-kapan-harus-menggunakan-konsultan-pajak\/\">Sengketa Pajak: Kapan Harus Menggunakan Konsultan Pajak?<\/a><\/li>\n<li><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/restitusi-pajak-proses-syarat-dan-risiko\/\">Restitusi Pajak: Proses, Syarat, dan Risiko<\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Pasal 23 PPh<\/h3>\n\n\n\n<p>Ini buat <strong>biaya jasa tertentu<\/strong>, misal jasa manajemen, konsultasi, atau profesional lain. DPP dihitung dari jumlah bruto <strong>tanpa PPN<\/strong>, lalu dikenakan tarif 2% (non-final). Jadi kalau ada invoice jasa konsultasi IDR 50 juta, DPP = 50 juta, pajak = 1 juta.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Pasal 26 PPh<\/h3>\n\n\n\n<p>Pasal ini untuk <strong>penghasilan luar negeri<\/strong> atau wajib pajak luar negeri. DPP-nya bisa berdasarkan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Penghasilan bruto<\/li>\n\n\n\n<li>Penghasilan bersih<\/li>\n\n\n\n<li>Penghasilan kena pajak tertentu<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Intinya, buat WP luar negeri, cara perhitungannya berbeda, dan wajib diperhatikan biar nggak salah setor.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Jenis DPP untuk PPN<\/h2>\n\n\n\n<p>Sekarang bro kita masuk ke DPP PPN, yang juga tricky kalau nggak ngerti:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Harga Jual DPP<\/h3>\n\n\n\n<p>Kalau lo jual barang kena pajak, <strong>DPP PPN = nilai produk minus PPN dan diskon yang tercantum di faktur pajak<\/strong>. Ini yang sering bingung orang awam, karena kadang diskon nggak dicatat bener, jadinya DPP salah, pajak kurang bayar.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. DPP Pengganti<\/h3>\n\n\n\n<p>Ini buat <strong>jasa kena pajak<\/strong>. DPP = nilai jasa yang diminta + diskon. Misal jasa marketing IDR 20 juta, kasih diskon 2 juta, DPP = 18 juta. Pajak dihitung dari DPP ini.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Nilai Ekspor DPP<\/h3>\n\n\n\n<p>Kalau lo ekspor barang, DPP = nilai kena pajak dari barang yang diekspor. Semua biaya yang keluar atau seharusnya keluar (transport, packaging, dll) termasuk dalam perhitungan nilai ekspor.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Nilai Impor DPP<\/h3>\n\n\n\n<p>Kecuali PPN yang dipungut UU PPN, DPP = nilai moneter yang jadi dasar bea masuk &amp; pungutan lain. Jadi impor barang = cek nilai barang + bea + biaya terkait, baru dihitung PPN-nya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Nilai Kena Pajak Tambahan<\/h3>\n\n\n\n<p>Untuk hal-hal lain, kayak jasa pengiriman, agen perjalanan, atau penggunaan pribadi, nilai kena pajak PPN dihitung sesuai <strong>PMK terbaru<\/strong>. Ini biasanya jarang diperhatikan, tapi kalau salah bisa kena denda.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tips Menghindari Denda Pajak<\/h2>\n\n\n\n<p>Oke bro, sekarang bagian yang paling juicy, rahasia biar <strong>nggak kena denda<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Hitung DPP dengan teliti<\/strong> \u2013 Jangan asal input angka di SPT. Cek semua biaya, diskon, dan tarif.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pisahkan PPh final dan non-final<\/strong> \u2013 Service charge atau sewa kamar final, jasa konsultasi non-final. Jangan campur.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Gunakan Coretax DJP<\/strong> \u2013 Semua DPP bisa dihitung dan divalidasi otomatis, jadi risiko salah input berkurang.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Konsultasi Konsultan Pajak Jakarta<\/strong> \u2013 Kalau ada transaksi unik atau ekspor-impor, mending minta bantuan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Simpan dokumen lengkap<\/strong> \u2013 Faktur, kontrak, nota, invoice semua harus ada. Kalau DJP audit, tinggal tarik file.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Update regulasi rutin<\/strong> \u2013 PMK, UU PPh, UU PPN sering berubah. Jangan sampai pake aturan lama, nanti salah DPP.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Oke bro, kita lanjut <strong>bagian 2<\/strong>, biar artikelnya full 2000+ kata, lengkap sama contoh perhitungan dan strategi Coretax.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Contoh Perhitungan DPP dan Pajak<\/h2>\n\n\n\n<p>Sekarang kita masuk ke praktik nyata, biar nggak cuma teori doang. Lo bayangin ada perusahaan jasa catering di Jakarta, mereka mau fakturin klien IDR 100 juta untuk event.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kasus 1: Biaya Layanan + Sewa Tempat<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Biaya sewa tempat: IDR 60 juta<\/li>\n\n\n\n<li>Biaya catering\/jasa: IDR 40 juta<\/li>\n\n\n\n<li>Total invoice: IDR 100 juta<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">PPh Pasal 4 Ayat 2 (final)<\/h4>\n\n\n\n<p>Sewa tempat kena <strong>PPh final 10%<\/strong>, karena masuk kategori sewa bangunan. Jadi:<\/p>\n\n\n\n<p>10% \u00d7 60 juta = <strong>IDR 6 juta<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">PPh Pasal 23 (non-final)<\/h4>\n\n\n\n<p>Biaya catering\/jasa kena <strong>PPh 2%<\/strong>, jadi:<\/p>\n\n\n\n<p>2% \u00d7 40 juta = <strong>IDR 800 ribu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Total Pajak yang Harus Disetor<\/h4>\n\n\n\n<p>6 juta + 0,8 juta = <strong>IDR 6,8 juta<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Catatan penting: Pembayaran ke pemilik gedung dan jasa catering harus sudah dipotong pajak sesuai ketentuan. Kalau nggak, DJP bisa kasih denda atau sanksi administrasi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kasus 2: PPN<\/h3>\n\n\n\n<p>Kalau catering ini termasuk PKP, maka PPN 11% dikenakan atas total invoice. Tapi DPP PPN = total invoice <strong>minus PPN<\/strong> sendiri. Jadi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Total invoice = 100 juta<\/li>\n\n\n\n<li>PPN 11% = 11 juta<\/li>\n\n\n\n<li>DPP PPN = 100 juta &#8211; 11 juta = 89 juta<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Jadi PPN yang harus dilaporkan = 11 juta. Kalau salah hitung, bisa kena denda 2% per bulan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Strategi Mengelola DPP di Coretax<\/h2>\n\n\n\n<p>Nah bro, ini bagian paling penting. Banyak wajib pajak masih salah kaprah karena nggak update sistem. Coretax DJP sekarang bikin hidup lo lebih gampang, tapi harus tahu strateginya.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Input Akun Standar<\/strong> \u2013 Pastikan semua transaksi dimasukkan dengan <strong>kode akun yang sesuai<\/strong>. Coretax pake standar COA DJP.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pisahkan Jenis Pajak<\/strong> \u2013 Jangan campur PPh final, non-final, dan PPN. Coretax bisa otomatis deteksi, tapi data harus benar.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Validasi DPP Sebelum Submit<\/strong> \u2013 Coretax punya fitur validasi. Gunakan ini buat cek angka-angka yang bakal dilapor.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Simpan Bukti Pembayaran<\/strong> \u2013 Semua bukti pemotongan atau setor pajak wajib disimpan di Coretax. Ini penting kalau audit.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Cek Peraturan Terbaru<\/strong> \u2013 PMK terbaru bisa ubah tarif atau basis DPP. Coretax update otomatis, tapi lo harus tetap pantau.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesalahan Umum Wajib Pajak<\/h2>\n\n\n\n<p>Biar lo nggak masuk jebakan pajak, ini beberapa kesalahan yang sering terjadi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Menggunakan <strong>NPWP sementara<\/strong> untuk penerbitan faktur, akibatnya sertifikat pemotongan nggak valid.<\/li>\n\n\n\n<li>Salah input DPP karena nggak pisahkan PPh final &amp; non-final.<\/li>\n\n\n\n<li>Lupa diskon atau biaya tambahan yang mempengaruhi DPP.<\/li>\n\n\n\n<li>Menganggap PPN 11% dihitung dari invoice total tanpa dikurangi diskon atau biaya lainnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak simpan bukti setoran pajak dan faktur elektronik.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Semua kesalahan ini sering berujung pada <strong>denda, bunga, atau pemeriksaan mendadak DJP<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tips Proaktif Menghindari Denda<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Audit Internal Rutin<\/strong> \u2013 Cek semua transaksi sebelum lapor SPT.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Gunakan Coretax Konsisten<\/strong> \u2013 Semua input transaksi dan DPP harus masuk ke sistem.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Konsultasi Berkala<\/strong> \u2013 Jangan tunggu ada masalah, mending panggil <strong>Konsultan Pajak Jakarta<\/strong> buat review SPT dan DPP tiap bulan\/kuartal.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pelatihan Pajak Internal<\/strong> \u2013 Kalau punya staf akuntansi, pastikan mereka update aturan DPP &amp; tarif pajak terbaru.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Dokumentasi Lengkap<\/strong> \u2013 Simpan kontrak, invoice, nota, dan bukti pembayaran pajak. Kalau audit, tinggal tarik file, nggak panik.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p>Bro, inti dari semua ini: <strong>memahami DPP itu kunci utama buat menghindari denda pajak<\/strong>. Tanpa DPP yang tepat, semua perhitungan pajak bakal meleset, dan DJP nggak segan kasih sanksi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan memahami:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Jenis DPP untuk <strong>PPh<\/strong> (Pasal 4 ayat 2, 15, 22, 23, 26)<\/li>\n\n\n\n<li>Jenis DPP untuk <strong>PPN<\/strong> (harga jual, pengganti, ekspor, impor, kena pajak tambahan)<\/li>\n\n\n\n<li>Strategi penggunaan <strong>Coretax<\/strong> buat validasi &amp; input data<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Lo bisa:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Mengurangi risiko salah bayar pajak<\/li>\n\n\n\n<li>Menghindari denda dan bunga pajak<\/li>\n\n\n\n<li>Mengoptimalkan kepatuhan pajak tanpa pusing<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Kalau masih ragu, <strong>Konsultan Pajak Jakarta<\/strong> selalu siap bantu review transaksi dan DPP lo. Dengan kombinasi pemahaman DPP + Coretax + konsultasi profesional, lo bisa <strong>aman dari audit mendadak DJP dan denda pajak<\/strong>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>pro-visioner.com\/pvk Memahami DPP untuk PPh dan PPN , Bro, kalau ngomongin pajak, pasti yang paling bikin kepala muter itu DPP, alias Dasar Pengenaan Pajak. Ini semacam fondasi dari semua perhitungan pajak, baik buat PPh maupun PPN. Salah ngitung DPP, bisa-bisa denda langsung nempel, atau audit DJP datang mendadak. Nah, di artikel ini gue bakal kupas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-939","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pajak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/939","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=939"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/939\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1040,"href":"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/939\/revisions\/1040"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=939"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=939"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pro-visioner.com\/pvk\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=939"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}