Pro Visioner Konsultindo , Tax Morality – Bayangin lagi nongkrong di rooftop bar Jaksel, terus obrolannya bukan soal siapa yang baru balik dari Bali atau siapa yang lagi deket sama siapa, tapi nyasar ke topik pajak. Kedengarannya boring, kan? Tapi ternyata makin ke sini, isu tax morality alias moralitas bayar pajak lagi hype banget—terutama di kalangan Gen Z.
Kenapa bisa gitu? Karena Gen Z tuh generasi yang paling “ngegas” soal transparansi dan fairness. Mereka tumbuh bareng media sosial, hidup di era dimana skandal keuangan gampang banget ke-blow up, dan trust ke institusi publik makin fragile. Jadi, buat mereka, bayar pajak bukan cuma kewajiban hukum, tapi juga soal moral dan etika.
Kalau lo liat survei global, tren yang muncul jelas: anak muda makin kritis. Mereka nggak cuma nanya “berapa persen tarif pajaknya?” tapi juga “duit pajak itu dipake buat apa?”. Misalnya, kasus dana bansos Covid-19 yang dikorupsi, langsung jadi bahan meme dan viral. Efeknya, banyak Gen Z yang mikir, ngapain bayar pajak kalau ujung-ujungnya dikorupsi? Di sisi lain, ada juga yang makin vokal: justru makin penting bayar pajak biar negara punya sumber daya, dan tugas mereka adalah ngejagain biar duit itu nggak diselewengin.
Di Indonesia, obrolan ini makin relevan karena proporsi angkatan kerja muda makin gede. Gen Z yang lahir 1997–2012, sekarang udah mulai kerja, freelancing, bikin startup, jadi influencer, sampe main kripto. Semua aktivitas itu kena pajak. Pertanyaannya: mereka mau nggak sih patuh?
Coba liat fenomena influencer. Beberapa tahun lalu, ada kasus influencer Indonesia yang ketahuan belum lapor pajak. Publik langsung rame, antara nyinyir (“duit banyak tapi males bayar pajak”) sampai support (“loh kan masih abu-abu aturan pajaknya”). Gen Z yang jadi penonton ini dapet pelajaran instan: pajak tuh bukan sekadar angka di slip gaji, tapi sesuatu yang bisa nentuin reputasi sosial.
Di sisi lain, ada gerakan voluntary compliance yang mulai dilirik. DJP bahkan udah bikin konten TikTok, literally masuk ke platform anak muda. Bayangin, pajak di-visual-in pake dance challenge atau sketsa cringe tapi relatable. Tujuannya jelas: ngenalin pajak sebagai bagian dari civic duty, bukan monster yang bikin takut. Surprisingly, banyak Gen Z yang engaged, karena mereka ngerasa lebih dihargai kalau komunikasinya santai, bukan pakai jargon ribet.
Soal tax morality, ada beberapa faktor yang bikin Gen Z beda:
Pertama, mereka digital native. Semua transaksi mereka transparan, entah itu gajian via e-wallet, jualan di marketplace, atau narik income dari YouTube. Jadi lebih susah kabur dari radar pajak. Ini bikin kepatuhan jadi semacam default setting, bukan pilihan.
Kedua, mereka melek ESG. Banyak yang peduli sustainability, corporate responsibility, dan ethical business. Jadi kalo ada perusahaan gede ketahuan ngemplang pajak, trust langsung drop. Gen Z cenderung boikot atau minimal bikin thread panjang di Twitter (X) buat expose.
Ketiga, mereka lebih kolektif. Buat Gen Z, bayar pajak bisa dilihat kayak kontribusi buat komunitas. Bukan cuma urusan negara, tapi juga solidaritas. Semacam “lu bayar pajak, gua bayar pajak, sama-sama bikin jalan bagus biar kita nggak kena banjir lagi”.
Tapi jangan salah, skeptisisme juga kuat. Banyak Gen Z yang masih ngegas soal transparansi pemerintah. Mereka bisa bilang: “Gua bayar pajak asal ada dashboard real-time kemana duit gua pergi.” Itu kayak wishlist utopia, tapi nggak mustahil. Negara-negara Nordik udah ada, semua data pajak publik bisa diakses online. Indonesia? Belum sejauh itu, tapi kalau demand dari Gen Z makin kenceng, bisa aja dipush.
baca juga
- Kenapa Perusahaan di Jakarta Semakin Membutuhkan Konsultan Pajak di Era Regulasi Ketat
- Pajak Properti di Jakarta 2026
- Optimalisasi Pajak untuk Bisnis di Jakarta Pasca Pelaporan SPT
- Sengketa Pajak: Kapan Harus Menggunakan Konsultan Pajak?
- Restitusi Pajak: Proses, Syarat, dan Risiko
Prediksi ke depan, tax morality di kalangan Gen Z bakal jadi game changer. Kalau trust ke pemerintah naik, kepatuhan pajak juga naik. Tapi kalau skandal korupsi terus berulang, moral pajak bisa drop drastis, bikin makin banyak orang cari cara “ngakalin” sistem.
Jadi sebenernya bola ada di dua sisi: pemerintah harus transparan biar pajak dianggap fair, sementara Gen Z sebagai wajib pajak baru harus nentuin apakah mereka mau jadi generasi yang nurunin legacy negatif (korupsi, penghindaran pajak), atau malah jadi motor buat budaya pajak yang lebih sehat.
Menurut lo, Gen Z di Indo bakal lebih ke arah “tax rebel” yang skeptis, atau “tax reformer” yang jadi pelopor transparansi pajak?